Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Tak Pandai Aku Bersajak

Rabu, 08 Juni 2016

Tak pandai kubersajak
Mengindahkan kata agar kaucinta
Mencuri simpati dari sastra

Tak pandai kubersajak
Mengungkap hati nan iba
Menyibak belas kasihmu tiba

Tak pandai kubersajak
Menuliskan rasa dalam bahasa
Menoreh kagum itu asa

Tak pandai kubersajak
Sajakku tak pandai menyelam
Menyapa rasa yang kaubuat,
Dalam... Dalam... Dalam...

Kapankah sajakku bersalam
Pada engkau, sang indah di dalam
Karna, sungguh
Tak pandai aku bersajak

Akhiri...

Jumat, 15 April 2016

Hayut kumenanti
Mencari pelataran tak kudapati
Terombang-ambing tenaga dihabisi
Hingga tak berdaya tersandar mati

Aku menatap mentari
Yang engan menghangati diri
Atau tak tahu aku masih di sini

Selamatkan aku,
Atas rinai kepedihan ini
Raih jemari hati
Hingga remuk tak jadi menguasai

Akhiri...
Akhiri...
Karena keluh telah bosan meratai bibir ini
Beku merambah habisi hati
Suara jangan didengar lagi
Hanyal bualan busuk mempengaruhi
Tak puas karena aku masih berdiri
Di sini...

Aku Ingin Kembali

Minggu, 09 Maret 2014

Aku ingin kembali.
Dimasa sabar mudah menghampiri.
Ketulusan tak ragu menapaki.
Saat rasa kecewa, sakit dan penyesalan tak
beranak-pinak menjadi penyakit.

Aku ingin kembali.
Di masa aku selalu menyakini hadir-Nya yang sejati.
Membuat aku lebih kuat meraih kasih.
Tanpa berharap sekian banyak pada manusia lain.

Aku ingin kembali.
Di tempatku walau sendiri.
Tak peduli kecemasan dan kesepian menemani.
Pada keegoisan hati atas keegoisan yang lain.

Aku ingin kembali.
Karena kini aku sakit.
Sakit yang tak kumengerti.
Menggerogotiku penuh dan melumpuhkan hati.
Dan aku tak ingin mati di sini.
Bersama sakit ini.

Aku ingin kembali

The Square Root of Three (akar tiga)

Minggu, 11 Agustus 2013

I fear that I will always be
A lonely number like root three
A three is all that’s good and right,
Why must my three keep out of sight
Beneath a vicious square root sign,
I wish instead I were a nine
For nine could thwart this evil trick,
with just some quick arithmetic
I know I’ll never see the sun, as 1.7321
Such is my reality, a sad irrationality
When hark! What is this I see,
Another square root of a three
Has quietly come waltzing by,
Together now we multiply
To form a number we prefer,
Rejoicing as an integer
We break free from our mortal bonds
And with a wave of magic wands
Our square root signs become unglued
And love for me has been renewed.
Translate :

aku takut akan selalu menjadi angka kesepian seperti angka tiga
hanya tiga yang kumiliki
kenapa harus kusembunyikan angka tiga-ku
dibawah tanda akar kuadrat yang kejam
ku harap aku angka sembilan
karena sembilan dapat mengalahkan hanya dengan aritmatik sederhana
aku tak kan melihat matahari seperti 1,7321
seperti kenyataan ku
bilangan irasional yang menyedihkan
apakah ini yang kulihat sebuah akar tiga yang lain
yang menari mendekatiku
bersama kita saling mengalikan
membentuk angka yang kita inginkan
bersatu menjadi bilangan bulat
kita mendobrak ikatan abadi
dengan ayunan tongkat sihir
tanda akar kuadrat kami terlepas
dan cinta untukku telah kembali


Puisi yang diberikan Kumar kepada Vanessa, mantan kekasihnya. Kisah cinta yang terbungkus indah. Film "Harold and Kumar" sebenarnya lebih kepada kisah persahabatan Harold (keturunan Korea) dan Kumar (Keturunan India). Namun, puisi satu ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam film yang bergenre komedi ini. Penasaran? Nonton gih!  :D

Aku Bukan Aku, Kini

Kamis, 04 Juli 2013

Aku mengatup 
Di kala sampah meneriakiku kotor 
Aku menghilang 
Di kala airmata memakiku cengeng 

Aku berharap terlihat tegas berdiri di atas pecahan kaca, 
walau sebagian menancap langsung ke sanubari 
Aku ingin semua melotot dengan senyum tulus, 
walau sebelah mata mereka menatap peluru berdarah tepat di jantungku. 

Aku berusaha menggenggam hatiku sendiri. 
Tak membawanya lagi terombang-ambing dalam tetololan diri. 
Aku memapah senyumku, agar tak bersahabat pada kebohongan. 
Aku menjadi aku. Karena aku melalui semua yang harus kulalui. 
Aku memilih aku. Atas semua keegoisanku pada diriku sendiri. 
Aku yang lengah terhadap waktu 
Sehingga aku menjadi bukan aku. 
Kini.

Semua tentang Aku

Sabtu, 08 Juni 2013

Terdesak dalam hingar kerapuhan
Karena kata yang tak kunjung datang
Membuat angan indah
Begitu saja terhambur keluar
Berhamburan

Aku tahu makna menanti
Namun, sayang kutak mampu menampik
Kekerasan hati akan perjanjian sendiri
Pada hati yang tak berani mengelak diri
Menetapkan hati
Pada penantian tak berarti
Sejauh ini

Tuhan tahu
Bahkan menjadi saksi
Setiap tetes rasa yang mengalir
Entah
Tentang jerat kesenangan atas perasaan sendiri
Atau malah sakit yang menjadi-jadi

Semua tentang aku
Dalam penantianku
Walau kata 'tak mungkin'
Telah tergambar jelas dalam diri
Bahkan teryakini kini

Semua tentang aku
Yang memberi arti
Namun, sama sekali tak berarti
Tandus keruh termakan waktu
Dalam penantian yang menggerogotiku

Sama Saja

Menghamburkan senyuman di hadapan pembenci
Sama saja menenggelamkan bunga pada kubangan sampah
Menyeret kisah manis
Dalam keseharian pengemis derita

Memilih meneruskan hidup yang kotor
Atas ketergantungan hati yang remuk
Omong kosong!
Hanya akan membuat hitam semakin kelam

Pernah kaulihat hitam berwarna terang?
Kecuali sinar menemaninya.
Pernah kaulihat matahari tersenyum riang
Saat hujan datang bersamaan?

Namun, ketulusan mampu menampik keras
Saat kekejaman ditampar rasa tulus
Dan membolak-balikkan hati begitu saja

Hingga, pernah kaulihat pelangi di kala hujan reda?
Pernah kaulihat bintang dan bulan dengan setia menemani malam
Walau malam terus menenggelamkannya?

Sama saja...
Semua indah dalam ketulusan
Sama saja...
Semua membahagiakan di kala sedih meninggalkan

Sama saja...

Indah... Kapan datang?

Jumat, 19 April 2013

Terduduk rapat pada keabuan
Sunyi mengekang
Sudah biasa
Kaku seketika menyelimuti jiwa
Mencoba menutup mata
Demi pengurangan takut yang mendera

Miskin cahaya
Terdengar biasa saja
Namun, mencekam bagiku
Bertingkah semau tak akan jadi pilihan
Karena kesempatan saja meninggalkan
Diam menjadi pilihan
Kala kata malah menjadi kejam
Memapah hati yang teringas
Pada gelap yang makin indah

Gerah!
Berayuhku pada kesepian
Menemani diri yang semakin memperihatinkan
Memalukan!
Hingga tawa ejek menjadi sarapan
Bahkan teman setiap jam

Indah...
Kapan datang?
Menggapai tanganku dengan tulus
Tak membiarkan nyawaku
Terenggut deras kematian
Atas dasar keinginan

Berharapkah ini?

Jumat, 08 Maret 2013

Semoga kita tak lagi terbatasi.
Hingga dekat dalam fisik dan hati.
Pengharapan seperti apa ini?
Sebuah ilusi yang memenjarakanku tak henti.
Tersiksa diri dengan bahagia menyelimuti.
Walau sesungguhnya, kamu tak akan termiliki.

Cinta?
Akupun tak tahu persisnya.
Bahkan, tak peduli apa.
Karena semua semu pada pandangan nyata.
Menantimu adalah sebuah kebodohan dunia.
Menunggumu merupakan kemunafikan yang menyiksa.

Kamukah?
Aku tak berani menatap harapan.
Pada pertemuan kita.
Tak berharap cinta.
Atau menjadikannya sebuah status kepastian.
Sebenarnya, kebersamaan yang seperti ini saja.
Jangan beri lebih kembali.
Menghipnotisku beruntun pasti.

Akukah?
Menegaskan kembali.
Sebuah keterikatan hati.
Menelanjangiku pada hari-hari.
Melototiku hingga kuterlemas menanti.
Ah! Aku kini terbudaki.
Pada sebuah lelaki yang tak memberi.
Beriku cinta yang kuingini.
Karena ia telah termiliki.
Kini.

Jelas sekali!

Jumat, 08 Februari 2013

Menyeruak ke permukaan hati
Menjamah diri yang semakin tertatih
Tak sadarku bahwa relung hati
Perih tak berhenti
Kala tahu, waktu telah mengakhiri
Satu waktu engkau datang dan merintih
Membuka mataku engkau masih berarti
Mencoba selami semua walau luka belum terobati
Detik kembali membawaku menepi
Pada jurang penyesalan diri
Genggamanmu kembali berotasi
Pada sosok yang engkau jamahi
Merebut posisiku yang kini tak berarti
Semua menggerogoti hariku, benci.
Teriak yang menghabiskan nafas pantas kuhabisi
Walau hadirmu tak akan lagi di sisi
Melayangku pada hari lari
Menyadarkan arti harga diri
Mengangguk pada waktu nanti
Menata hati terjaga jati
Kisah ini akan jauh berarti
Tanpa engkau di sisi
Jelas sekali!

Kesetiaan yang tak mampu di makan waktu

Jumat, 21 Desember 2012

Nama yang sederhana
Sebuah panggilan yang biasa saja
Keseharian yang apa adanya
Kehadiran yang membuat aku ada

Ibu
Terdengar begitu tabu
Karena semua merasakan arti hadirmu

Ibu
Melahirkan para manusia di dunia
Menghadirkan para makhluk Tuhan yang baru
Rahimmu sumber keberlangsungan peradaban

Ibu
Katanya wanita biasa
Namun ternyata begitu perkasa
Hadirmu begitu terasa
Hingga kehilanganmu mampu membuat buta

Ibu
Sering kali seperti boneka
Melakukan mau anak
Tanpa tau kata hatimu

Ibu
Wanita sederhana penyemangat hidup
Wanita separuh nyawaku
Tawamu pelipur laraku
Sakitmu menusuk jantungku

Ibu
Sahabat sejatiku
Pendengar dan penasihat terbaik sepanjang waktuku
Penghangat kala dingin dunia menyiksaku

Ibu
Ketidakmampuanku menggenggam keinginanmu
Tak menjadikanmu membenciku
Keterbatasanku tak menjadikanmu menjauh
Keegoisanku tak menjadikanmu menelantarkanku

Ibu
Aku si muda tak tahu diri
Membiarkan segala impianku dengan sigapku capai
Namun mengabaikan
Tak jarang membuang segala impianmu

Ibu
Kehadiranmu mampu di raih waktu
Namun
Kesetiaanmu tak mampu di makan waktu

Menunggu Terbukanya Hati

Minggu, 02 Desember 2012

Bejo..
Sebuah nama yang sederhana
Namun jelas tak sesederhana arti rasa yang semakin berdebu ini

Bejo..
Bayang sering memperjelas ini
Mengiring dan menghanyutkan rasa semakin mendalam dan mengerti

Bejo..
Jika nanti terbukanya hati
Jangan sia-kan mimpi
Satukan cinta hingga nanti
Tak peduli egois mengikis hari
Hingga tulus yang menguasai
Dan bahagia menemani pasti




#sebenarnya ini puisi buat Puisi Gobel Awards 2012, tapi telat :(
jadi share di sini aja deh :)

Hanya aku

Rabu, 28 November 2012

Aku masih ada
Berharap keadaan bersahabat
Menanti kini terasa pekat
Dan mengetat pada tirakat

Aku bertanya tentang arti penantian
Namun kenyataan membawaku pada perubahan
Keadaan zaman yang tak perduli kesetiaan
Perlahan hati di peluk erat keegoisan
Waktu membawa nikmat sesaat dan akhirnya kembali menyekat pikiran
Rindu seakan menghilang
Bersama detik yang terus meninggalkan
Matahari yang tetap setia berganti dengan bulan
Bintang yang kukuh menggenggam bulan
Semua sama
Hanya aku yang terlantar
Pada perubahan pengekuh mata
Hingga terpejam dan menyerah

Lentera Ini

Sabtu, 17 November 2012

Sebelumnya..
Aku terus menerka dalam gelap
Pekat terasa hingga tirakat
Aku menyadari arti sepi
Terpejam dari langkah pasti

Setelahnya..
Aku mencoba menata hati
Menemukan kembali
Lentera isi hati
Tentang cinta yang tak mati

Kini..
Aku memahami
Seberapa terang hidup ini
Genggaman keras di hati
Membawa indah
Lentera cinta abadi..
Hanya pada Ilahi..

Musuh Diri

Rabu, 31 Oktober 2012




Tata rapi keadaan diri
Melemah jiwa
Yang tak ramah pada hati
Bergulir hari yang menemani
Berkutat pada musuh sendiri

Airmata bergemuruh
Menjadi wakil jelas
Teriakan yang tak  terdengar
Bagai bisu membungkam

Lemah...
Terbungkus kelelahan
Lumpuh berada di permukaan
Menyeret diri hingga terluka membekas

Lantas..
Apa ku harus berhenti?
Dan kenapa ku memilih bertahan?
Atau mati akan jadi pilihan?
Aku menjadi musuh bagi ku
Saat ini....

TAMAT

Minggu, 21 Oktober 2012

kerakat tirakat yang tak terikat..
semua bercampur dalam pekat..
yang tak pernah berhakikat..
seandainya..
yah seandainya...
kiamat diri mendekat secara
hikmat..
tanpa tau arti terketat..
hingga penantian mengikat..
tersekat dalam nikmat tamat..

@ArLia_Rizky

Bukan KITA

Jumat, 12 Oktober 2012

Lamunan ini tak kosong
Secoret nama melekat seketika
KAGUM menjadi awal
Kini ia menjalar menjadi

Aku melumpuh pada bayang
yang tak mampun digenggam
Kiasan perasaan
Memaknai jelas namun tak tersingkap

Aku tahu
Mengerti aku
Kamu ada
Bukan KITA
Mematung aku
Dalam Bimbang berarti
Memuji tanpa tertolehi

bangku ini kosong

Selasa, 11 September 2012




 Bangku ini kosong....
Namun Lihat Lah dengan seksama..
Sebuah nama tertulis di atasnya...
Nama yang belum termakan debu..
Walau telah tertinggal waktu..

Bangku ini menunggu..
Nama itu menghampiri dan tak meninggalkannya..
Karena di memori ingatan..
Nama itu pernah duduk..
Sejenak,,, Lalu berdiri pergi belum kembali..

Bangku menunggu ..
Walau tak yakin nama itu datang...
Bangku Lelah,,, Namun bertahan...
Percaya waktu Tak akan berkhianat...

Bangku kosong yang Bernama...
Menanti dan tak peduli hiruk pikuk dunia...
Menawarkan nama-nama lain lagi..
Bangku telah memutuskan...
Menunggu nama itu kembali dan bersama...


"MENYERAH"




Jemari menari indah di atas lembar kosong..
Mata tak dapat menyangkal..
Tak akan melirik kemanapun..
Menetap fokus..
Serta bibir terbungkam..
Suarapun terus  terpenjara..

Kini tercurahkan semua benak di jiwa..
Dalam tinta tulus..
Dan kejujuran kejadian..

Airmata menjadi sahabat..
Saat bulan mengintip dari celah jendela..
Keheningan membiarkan masa ini..
Dengan percikan sinar cahaya..
Kulanjutkan satu persatu..
Bersama keyakinan penuh..
Agar tak bertambah sakit nantinya..

“MENYERAH”..
Kutulis dengan kapital dan tebal..
Yang mewakili semua..
Dan kunci  alasanku..
Bersama waktu yang menjadi saksi..
Dan sakit penghiasnya..
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS