Surat Untuk Dino

Jumat, 30 November 2012

Proses. Yah benar sekali. Proseslah yang membawaku kepadamu (lagi). Banyak hal yang belum kukatakan padamu. Tentang aku, hidupku dan hatiku. Aku bersyukur, kini waktu sedikit berpihak padaku. Dan membuatku sedikit memikirkan tentang roda kita. Tentang kisah yang begitu samar antara kita. Saat ini, aku menatap matamu penuh ketulusan. Dan berharap kau melihatku Dino. Lihat aku sebagai istrimu yang kau cintai.
Sedikit tentang celoteh kita seminggu lalu :
"Udah mau tidur belom No?" Tanyaku saat menatap wajah suamiku yang begitu terlihat lelah berkerja.
"Belom. Tidur sana duluan." Jawabmu cetus.
"Kenapa? Kamu kelihatan sangat lelah No. Mau ku pijat?" Tawarku sambil menyentuh pundak lelaki yang kucintai 10tahun ini dan menjadi milikku 3tahun ini.
"Aku bilang tidur, ya tidur sana. Ngapain sih sok repot!" Kini dengan nada tinggi dan menatap tajam pada mataku dengan mata seakan penuh benci.
"Baiklah."

Hanya secuil bukti nyata hubungan pernikahan kita.
Aku mengerti hatimu. Aku tahu, apa arti hadirku dalam hidupmu. Seakan benalu yang ingin kau buang segera. Seakan sampah yang sangat bau dan jelas tak berguna. Kau tak menginginkan hadirku yang tak kau harap. Setelah kau menemukan dia. Dan lebih memilih dia dibandingkan hubungan kita, yang dibina dengan banyak menguras hati, waktu, kesempatan, harapan, doa dan ketulusan. Bukan waktu singkat untuk menyerahkan seumur hidupku padamu. Namun ketika semua kupahami lebih jelas. Justru aku hanya akan mendapati, aku yang semakin terjerat dan tak bisa melepasmu. Walau dengan keegoisan hatiku.

Aku bagai seorang permaisuri yang tak dibutuhkan raja-nya. Maafkan aku. Maafkan aku Dino. Karena aku tak berhasil menarik hatimu (lagi) padaku. Dan maafkan aku yang masih berusaha bertahan. Untuk belajar menjadi istri yang baik bagimu. Walau yang kudapati tetap seperti ini.
Aku masih tersisa di bumi ini. Karena cintaku padamu. Setelah semua yang kumiliki di dunia ini terenggut dan musnah dalam detik. Saat kebakaran itu memusnahkan semuanya. Semua kenangan tentang keluarga yang membuangku saat kecil. Semua cinta dari Mbok Cici yang merawatku sejak kecil. Dan semua impian yang terkubur abu pada rumah itu.
Bertemu denganmu. Semangat baru dalam hidupku. Hingga aku mendapati cintamu (dulu). Jika aku pergi dari sisimu. Itu sesungguhnya bukan inginku. Namun keharusan bagiku. Untuk membahagiakanmu. Setelah 3tahun bersama. Kau tak pernah menatapku dengan cinta. Dan kini, aku mengizinkanmu mengejar cintamu. Jihan, sahabatku sejak kecil. Yang menjadi permaisuri-mu sejak 4tahun terakhir.
Aku tahu ini No. Aku tahu apa yang ada di hatimu. Walau kau tak mengeluh-eluhkan namanya di hadapanku. Aku tak pernah melihat pandangan cinta dari matamu padaku. Namun aku melihat itu. Ketika kau menatap Jihan. Raihlah Dia. Kejarlah kebahagiaanmu. Aku akan segera mengurus perpisahan kita. Jangan cemaskan aku. Aku sudah cukup tau dengan semua pilihanku. Aku bahagia. Sangat bahagia. Karena aku, telah berhasil memiliki jasadmu dalam 3tahun ini. Walau tanpa hatimu. Aku mencintaimu Dino. Dengan hidup dan MATIku. Aku mencintaimu hingga AKHIR hayatku. Maafkan aku. Semoga kau selalu bahagia.

"Maafkan aku Intan. Maafkan aku." Tangis Dino menatap seonggok tanah merah yang belum mengering setelah beberapa menit lalu mengubur telak jasad yang begitu tulus padanya 10tahun  ini.
"Maafkan aku Intan. Maafkan aku Dino."
"Seandainya aku mengerti arti rasa sakit yang ia rasakan saat mengetahui hadirmu dalam hatiku. Seandainya aku tak merasa bahagia saat dia menyerah dan mengizinkan kita bersama. Ia tidak akan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri tepat di rumah yang sama dengan semua hidupnya yang telah menjadi abu. Aku mencintainya! Aku mencintainya!"
"Aku tahu No. Bersabarlah. Intan hanya ingin melihatmu bahagia. Karena ia begitu mencintaimu. Maafkan kami Intan. Kami mencintaimu."

Jihan memeluk erat Dino. Dan terus menangis. Menyesali keegoisan yang berhasil membunuh sahabatnya yang berpuluh tahun begitu mempercayainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS